Kata Orang Arif:apabila engkau mendapat wang,belikan emas;jualkan emas itu belikan intan;jualkan intan,belikan manikam;jualkan manikam,belikan ILMU.
(Hikayat Munsyi Abdullah )

Sunday, August 9, 2009

Mengenang Almarhum WS Rendra


Willibrordus Surendra Broto Rendra (WS Rendra) : air zamzam pun rasanya seperti Minuman Chevas Regal
Meskipun sudah menjadi orang Islam, tetapi saya masih suka meminum minuman keras. Seenaknya saja saya katakan bahwa tidak ada masalah dengan hal itu. Waktu itu, saya selalu katakan, kalau saya membaca bismillahirrahmanirrahim, maka minuman keras menjadi air.
Saya memang telah memilih jalan hidup saya sebagai seniman. Sejak muda, saya telah malang-melintang di dunia teater. Bahkan, kemudian sava dikenal-sebagai "dedengkot" Bengkel Teater sewaktu masih tinggal di Yogyakarta. Melalui Bengkel Teater inilah saya telah mendapatkan segalanya: popularitas, istri, dan juga materi.
Bahkan tidak tanggung-tanggung, dalam kemiskinan sebagai seniman pada waktu itu, saya dapat memboyong seorang putri Keraton Prabuningratan, BRA Sitoresmi Prabuningrat, yang kemudian menjadi istri saya yang kedua. Tetapi justru, melalui perkawinan dengan putri keraton inilah, akhirnya saya menyatakan diri sebagai seorang muslim.
Sebelumnya saya beragama Katolik. Meskipun dalam rentang waktu yang cukup panjang-setelah memperoleh 4 orang anak--perkawinan saya kandas. Tetapi, keyakinan saya sebagai seorang muslim tetap terjaga.
Bahkan, setelah perkawinan dengan istri yang ketiga, Ken Zuraida, saya semakin rajin beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dan bukan suatu kebetulan, jika saya kemudian bergabung bersama Setiawan Djodi dan Iwan Falls dalam grup Swami dan Kantata Takwa.
Bagi saya, puisi bukan hanya sekadar ungkapan perasaan seorang seniman. Tetapi lebih dari itu, puisi merupakan sikap perlawanan saya kepada setiap bentuk kezaliman dan ketidakadilan. Dan, itulah manifestasi dari amar ma'ruf nahi munkar seperti yang selalu diperintahkan Allah di dalam Al-Qur'an.
Sebagai penyair, saya berusaha konsisten dengan sikap saya. Bagi saya, menjadi penyair pada hakikatnya menjadi cermin hati nurani dan kemanusiaan. Penyair itu bukan buku yang dapat dibakar atau dilarang, bukan juga benteng yang bisa dihancur leburkan.
Ia adalah hati nurani yang tidak dapat disamaratakan dengan tanah. Mereka memang dapat dikalahkan, tetapi tidak dapat disamaratakan dengan tanah begitu saja.
Pergi Haji
Ketika naik haji, apa saja yang saya tenggak terasa seperti minuman keras merek Chevas Regal. Minum di sini, minum di sana, rasanya seperti minuman keras. Bahkan, air zamzam pun rasanya seperti Chevas Regal, sampai saya bersendawa, seperti orang yang selesai meminum minuman keras.
Lirih, saya memohon. "Aduh, ya Allah, saya ini sudah memohon ampun. Ampun, ampun, ampun, ya Allah." Saya betul-betul merasa takut, kecut, malu, dan juga marah, sehingga saya ingin berteriak, "Bagaimana, sih? Apa maksud-Mu? Jangan permalukan saya, dong!" Saya baru merasakan air lagi dalam penerbangan dari Jedah ke Amsterdam. Alhamdulillah! Saya betul-betul bersyukur. Setelah ini, saya tidak akan meminum minuman keras lagi.
Tujuh Dasawarsa Sang Burung Merak
Semua kursi di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, penuh terisi. Meski panggung hanya didominasi satu warna, hitam, gairah pengunjung tetap terasa.
Ya, malam itu merupakan malam penghormatan bagi sang pemilik usia, sastrawan besar Indonesia, Willibrordus Surendra Broto Rendra atau Rendra, yang telah menginjak usia ke-70.Tujuh puluh tahun memang bukanlah sebuah rentang usia yang pendek. Apalagi bila sang pemilik usia adalah orang besar seperti Rendra yang mengisi hidupnya untuk mewarnai kehidupan banyak orang.
Tak ada kue ulang tahun mewah, apalagi pesta yang ingar-bingar malam itu. Namun, orang-orang yang pernah disentuh hidupnya oleh pemimpin Bengkel Teater ini berusaha merangkai acara istimewa bagi budayawan kelahiran 7 November 1935 yang kerap dijuluki si Burung Merak tersebut.
Tak pelak, pembacaan karya-karya monumental sang maestro menjadi sebuah hidangan nikmat bagi para pengagum, sahabat, dan keluarga dekatnya. Karya-karya yang dipilih merupakan cermin pemikiran kritis serta pergolakan panjang batin Rendra selama 50 tahun lebih perjalanan kesastraannya.
Dipandu oleh aktor kawakan yang juga jebolan Bengkel teater, Adi Kurdi, acara dibuka dengan pembacaan puisi Nyanyian Orang Urakan yang dibawakan oleh Ketua Umum Dewan Kesenian Jakarta, Ratna Sarumpaet. Kemudian sebuah cerita pendek Gaya Herjan karya Rendra ditampilkan oleh aktor dan penyair Jose Risal Manua. Dengan gayanya yang khas, Jose mampu menampilkan kepekaan Rendra terhadap kehidupan manusia sehari-hari seperti yang ia tunjukkan pada cerpen tersebut.
Sementara itu, kegelisahan Rendra pada kehidupan politik rezim Orde Baru yang ia tuangkan dalam Panembahan Roso ditampilkan secara apik oleh Butet Kertaradjasa. Ia membawakan monolog dari sekelumit bagian karya tersebut. Monolog yang ia bawakan tak berdiri sendiri, tapi bersanding dengan pembacaan dramatic reading oleh Amak Baldjun, Syu'bah Asa, Chaerul Umam, dan Jose Rizal Manua, para alumni Bengkel teater.
Esai bertajuk Keseimbangan yang dibawakan Adi Kurdi dan sebuah cerpen yang dibuat pada 1956 berjudul Ia Punya Leher yang Indah dibacakan oleh pemimpin Teater Koma, N. Riantiarno, pun mengakhiri keseluruhan acara malam itu.
Namun, interpretasi baru Putu Wijaya pada cerpen lama Rendra, Wascha Ah Wascha, menjadi puncak acara malam itu. Gelak tawa pengunjung tak henti-hentinya mewarnai pembacaan Putu yang nyleneh. Selamat ulang tahun, Mas Willi.
Rendra, Dia memang pernah dikalahkan oleh kekuasaan yang otoriter, tapi, kemudian, ternyata dialah sang pemenang.Pertama kali saya bertemu langsung dengan W.S. Rendra pada April 1968. Dia baru pulang dari Amerika Serikat dan membawa oleh-oleh yang bagi aktivis teater Indonesia boleh dibilang asing. Geger tentu saja.
Goenawan Mohamad menyebutnya teater minikata. Itulah latihan-latihan dasar teater yang memang minim kata, nyaris hanya terdiri atas gerak dan bunyi. Waktu itu saya mahasiswa Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) dan anggota Teater Populer. Teguh Karya, guru kami, ikut pentas teater minikata.
Belakangan, Rendra mengakui, Teguh Karya adalah dramawan yang berhasil mempengaruhinya sehingga dia semakin bergiat dalam dunia teater. Pentas teater minikata digelar di Jakarta pada April 1968. Nomor-nomor yang disajikan, Bip Bop, Piip, Di Manakah Kau Saudaraku, Rambate-Rate-Rata, dan Vignet Katakana, sangat memukau.
Rendra menjadi bintang yang menawan. Begitu juga Putu Wijaya, Chaerul Umam, Amak Baldjun, dan Syubah Asa. Beberapa hari kemudian, Rendra berkenan mengunjungi Teater Populer. Grup kami sering dicap sebagai teater borjuis, mungkin karena kami berlatih di Hotel Indonesia.
Padahal kami sama miskin dengan seniman-seniman teater lain. Makan siang terpaksa bantingan. Dan jatah kami hanya sebuah bacang ketan isi daging sapi. Minumnya air putih, langsung dari keran wastafel hotel. Dalam pertemuan pada 1968 itu, Rendra mengajak kami melatih gerak kalbu atau gerak indah. Intinya, dengan mengambil tema tertentu, tubuh bergerak karena dorongan jiwa. Gerak bisa distimulasi oleh suara musik atau bisa juga oleh suara jiwa kita sendiri. Sama sekali tak ada pola gerak. Seluruh gerak terjadi secara spontan. Tapi konsentrasi harus penuh dan hati jujur.
Itulah metode latihan tubuh dan jiwa yang ternyata sangat efektif bagi aktor. Setelah pementasan Bip Bop, Rendra pulang ke Yogyakarta dan berkiprah bersama Bengkel Teater. Tapi teaternya kemudian dicap oleh penguasa, yang mulai cemas, sebagai kegiatan berbobot politik dan membahayakan stabilitas nasional.
Sebelum ke Amerika Serikat, pada 1963, Rendra berhasil mementaskan karya Eugene Ionesco, The Chair, yang dia sadur menjadi Kereta Kencana. Dia juga menggelar Odiphus karya Sophocles. Yang menarik, setelah Bip Bop, Rendra kembali mementaskan teater yang bersumber dari naskah. Dia menggelar Isteri Yahudi, Informan, dan Mencari Keadilan, terjemahan karya Bertolt Brecht. Dan dia menggelar sandiwara yang sarat teks pula, antara lain pentas ulang Oidipus, Hamlet karya Shakespeare dan Menunggu Godot karya Samuel Becket.
Bentuk pementasan Bengkel Teater baru mengalami perubahan yang signifikan ketika Kasidah Barzanzi, Macbeth, Dunia Azwar, dan Lysistrata digelar. Warna lokal jadi bungkus utama pergelarannya. Dan kekentalan "warna lokal" semakin memancarkan daya tariknya ketika Rendra mementaskan karya-karya sendiri: Mastodon dan Burung Kondor, Perjuangan Suku Naga, Sekda, Panembahan Reso, dan Selamatan Anak Cucu Sulaiman. Ketika Hamlet dan Kasidah Barzanzi dipentaskan ulang, bentuknya pun mengalami perubahan yang lebih kental dengan warna lokal, meski siratan isi lakon tetap sama.
Dalam Perjuangan Suku Naga, Sekda, dan Panembahan Reso, bentuk teater rakyat, ketoprak, dikemas sebagai stilisasi yang sangat berhasil. Segera saja Rendra menjadi ikon. Living-legend dan trendsetter yang berhasil memberi daya hidup bagi dunia teater (dan puisi). Lewat kiprah Rendra, teater menjadi lebih prestisius, "berharga", dan milik masyarakat luas.
Teater (dan puisi) juga mulai diperhatikan kaum politikus, malah dianggap memiliki potensi yang bisa mempengaruhi timbulnya pemikiran baru dalam kebijakan politik bernegara. Ini perkembangan yang menarik dan penting. Dan kepada Rendra, saya berguru.
Dalam penulisan, saya berguru kepada Asrul Sani, Arifin C. Noer, dan Goenawan Mohamad. Guru teater saya adalah Teguh Karya dan Rendra. Memang saya belajar langsung kepada Teguh Karya, yang mengajari cara mempertahankan daya kreatif dalam kehidupan yang semakin kompetitif.
Saya memetik dasar pelajaran manajemen kehidupan kreatif dari dia. Tapi cara bagaimana membangkitkan daya hidup serta mempertahankan stamina dalam gejolak arus zaman serta menyiasati kemusykilan politik kebudayaan dalam pemerintahan yang otoriter, secara tak langsung, saya banyak menyerap dari Rendra.
Pelarangan pentas Teater Koma Suksesi dan Opera Kecoa, juga pelarangan pentas puisi Rendra, mendorong para seniman pergi ke DPR RI untuk memprotes pada 1991. Dalam hearing di ruang sidang pleno DPR RI, para seniman bergiliran bicara. Dan Rendra membaca puisi dengan sangat-sangat bagus. Indah. Memukau. Itulah pembacaan puisi terbagus yang pernah saya saksikan.
Berbagai tindakan bermakna dan inspiratif telah dia lakukan. Dia pernah dipaksa hidup dalam kemiskinan, terlunta, tanpa uang, seakan tidak memiliki masa depan pula. Tapi daya hidupnya tak pernah padam. Dia memang pernah dikalahkan oleh kekuasaan yang otoriter, tapi, kemudian, ternyata dialah sang pemenang.Rendra, seniman besar. Milik Indonesia. Permata mulia.
Pikiran-pikirannya tajam. Dia selalu mengungkap apa yang dirasa, tanpa jengah, tanpa rasa takut. Dengan sikap seperti itu pula dia dicekal dan dipenjara. Tapi dia tak pernah jera. Rendra adalah empu yang mumpuni. Hingga kini dia terus memberi kontribusi atas berbagai pikiran yang bernas. Kita seharusnya bersyukur memiliki dia.
BioData WS Rendra
Nama : WILLIBRORDUS SURENDRA BROTO RENDRA
Lahir : Solo, Jawa Tengah, 7 November 1935
Agama : Islam
Pendidikan :-SMA St. Josef, Solo -Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gadjah Mada -American Academy of Dramatic Arts, New York, AS (1967) Karir :-Pendiri/Pemimpin dan sekaligus sebagai sutradara, penulis skenario dan pemain Bengkel Teater, Yogya (1967 -- sekarang) Sebagai penulis puisi dan drama, ia menghasilkan antara lain: -Sekda -Perjuangan Suku Naga (drama) -Ballada orang-orang tercinta (1957) -Blues untuk Bonnie (1970) -Potret Pembangunan dalam Puisi (1980) (kumpulan puisi) -Pamphleten van een Dichter, Holland, 1979 -State of Emergency, Australia (1980) Naskah-naskah pentasnya: Bip-bop -Oedipus Rex -Khasidah Barzanji -Perang Troya tidak akan Meletus
Kegiatan Lain :-Pemain Film.
Memperoleh Hadiah Puisi dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (1957) -Anugerah Seni dari Departemen P dan K (1969) -Hadiah Seni dari Akademi Jakarta (1975) Alamat Rumah :Jalan Mangga, Perumnas Depok I, Bogor

3 comments:

binjidan said...

wah padat skali bicara ini..buah dan rasa manisnya dapt langsung aku resapi nikmat itu..ermm aku plajari soal hidup rendra disini saja lagi mudah difahami

Iklan Gratis said...

negeri ini akan selalu mengenang namamu…
kau telah menjadi budayawan yang sejati…
karya2 besarmu mengiringi kepergianmu…
kini kau telah terbang bebas dialam sana…
kau telah bebas dari kerengkeng duniawi yang fana ini…
kau akan lebih tenang disana..

selamat jalan sang merak ku…..
Iklan Gratis

Maurice Avrahm said...

Termakasih buat karyanya, semoga Allah memberi balasan kebaikan yang berlipat ganda. Mari anak negeri, WS. Renra patut dicontoh.
Salam:
http://wisencare.blogspot.com
Link ini sebagai tanda, saya senang baca blog anda.